Menko Infra Dorong Optimalkan Infrastruktur SDA untuk Ketahanan Air
Jakarta, LensaSN
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong optimalisasi infrastruktur-infrastruktur sumber daya air atau SDA untuk memperkuat ketahanan air yang dibutuhkan bukan hanya bagi pemenuhan kebutuhan rumah tangga, namun juga industri.
"Air sekali lagi menjadi sangat penting. Dan air bukan hanya untuk data center, karena kita juga membutuhkan untuk masyarakat kita, untuk tanaman kita, untuk ternak kita, untuk menjaga lingkungan kita. Tetapi kita cegah segala bentuk pencemaran, segala bentuk penggunaan air yang tidak tepat guna, tidak efisien, karena makin hari selain ketahanan pangan, ketahanan energi yang harus kita siapkan, tapi juga ketahanan air bersih. Ini isu dunia dan bisa jadi ke depan menjadi sumber konflik antarnegara juga," ujar AHY, di Jakarta, Senin (12/10/2026.
Menurut AHY, Indonesia memiliki cukup banyak infrastruktur sumber daya air seperti bendungan, embung, reservoir dan sebagainya.
"Kita punya cukup banyak bendungan, reservoir, dan lain-lain. Selain kita siapkan untuk kebutuhan pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tapi juga pemenuhan kebutuhan industri. Di antaranya industri ekonomi digital. Jadi, kita juga harus membuka atau menyiapkan peta jalan atau roadmap yang juga mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan data center tersebut," katanya lagi.
Menko Infra AHY mengungkapkan ketahanan air adalah ketahanan ekonomi, karena menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ia menambahkan, pengelolaan air perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari kesehatan daerah aliran sungai (DAS), penyediaan air baku dan irigasi, air minum dan sanitasi, hingga pengendalian banjir, perlindungan pesisir, dan solusi berbasis alam.
Pendekatan tersebut, menurut AHY, perlu berjalan seiring dengan pembangunan kota dan infrastruktur yang tangguh.
Dirinya juga menekankan bahwa tantangan air juga tidak dapat diselesaikan melalui pembangunan infrastruktur secara terpisah.
Pencemaran sungai, sedimentasi, banjir, penurunan muka tanah, hingga kenaikan permukaan air laut merupakan persoalan yang saling berkaitan dan membutuhkan respons lintas sektor.
Karena itu, ia mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pembiayaan, akademisi, masyarakat, dan mitra pembangunan untuk mengubah kebutuhan ketahanan air menjadi investasi yang konkret dan berdampak. (apr/antara)