Mengenang Kapten Achmad Anwar Arsyad dari Resimen 44 Hingga “Harimau Bengkulu”: Jejak Pejuang yang Tidak Pernah Meminta Pengakuan
Oleh: Laksda TNI (Purn) Rosihan Arsyad
PADA 23 September 2026, genap 106 tahun sejak Ayah saya Achmad Anwar Arsyad, dilahirkan. Ia lahir pada 23 September 1920, seperempat abad sebelum Republik Indonesia berdiri. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, usianya belum genap dua puluh lima tahun.
Itulah usia ketika seorang pemuda biasanya mulai membangun kehidupan: bekerja, berkeluarga, mencari tempat dalam masyarakat. Tetapi generasi ayah saya tidak memperoleh kemewahan untuk hidup dalam keadaan normal. Mereka melewati akhir pemerintahan kolonial Belanda, pendudukan Jepang, kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, kekosongan kekuasaan sesudahnya, lahirnya Republik, lalu perang mempertahankan kemerdekaan menghadapi kembalinya Belanda.
Ayah memilih berada di dalam pusaran sejarah itu. Yang terasa ironis bagi saya sekarang adalah betapa sedikit kisah perjuangan tersebut saya dengar langsung dari mulut beliau. Sepanjang yang saya ingat, Ayah hampir tidak pernah menceritakan pengalaman perangnya kepada anak-anak. Tidak ada malam ketika ia mengumpulkan kami lalu berkisah tentang pertempuran. Tidak ada cerita mengenai keberaniannya sendiri. Tidak ada usaha memperlihatkan bahwa ia pernah memegang jabatan penting dalam ketentaraan Republik yang baru lahir.
Kami tentu mengetahui bahwa Ayah pernah menjadi tentara. Kami mengetahui orang memanggilnya Kapten. Tetapi sebagian besar cerita tentang masa perjuangannya sampai kepada kami hanya dalam bentuk potongan-potongan ingatan keluarga.
Saya pernah mendengar bahwa ia pernah ditahan tentara Jepang dan berhasil melarikan diri. Nama-nama seperti Maludin Simbolon, M.Z. Ranni, bahkan Ventje Sumual, pernah melekat dalam ingatan saya dari percakapan atau dokumen-dokumen lama yang saya lihat ketika masih muda. Dan ada sebuah julukan yang sejak kecil masih tersimpan dalam ingatan saya: “Harimau Bengkulu.”
Ayah sendiri tidak menjelaskan semuanya. Baru setelah usia saya sendiri memasuki masa senja timbul keinginan untuk menelusuri kembali siapa sebenarnya Kapten Achmad Anwar Arsyad dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia. Dan di situlah saya menemukan sesuatu yang sangat menarik: semakin sedikit Ayah bercerita mengenai dirinya sendiri, semakin banyak dokumen sejarah yang ternyata berbicara untuknya.
Pada awal 1946, nama Kapten Anwar Arsyad sudah muncul dalam lingkungan Perwira Tentara Republik di Sumatera Selatan. Dalam catatan mengenai konsolidasi dan pelantikan para Perwira di Palembang pada Januari 1946, namanya berada bersama sejumlah Perwira yang kemudian dikenal dalam sejarah militer Sumatera Selatan.
Catatan itu penting bagi saya. Ia mengubah sebuah cerita keluarga menjadi sesuatu yang memiliki pijakan dokumenter. Ketika Republik Indonesia bahkan belum berumur enam bulan, ayah sudah tercatat sebagai seorang Perwira berpangkat Kapten.
Jejak itu menjadi jauh lebih jelas setahun kemudian.

Pada Januari 1947 dilakukan reorganisasi kekuatan militer di Sumatera Selatan. Salah satu organisasi tempur yang muncul adalah Brigade Pertempuran Garuda Merah, yang berada dalam lingkungan Divisi VIII/Garuda. Brigade ini dipimpin oleh Kolonel Bambang Utoyo dan beroperasi dalam wilayah yang sangat penting bagi pertahanan Republik di Sumatera Selatan.
Di bawah Brigade Garuda Merah terdapat Resimen XLIV atau Resimen 44, Komandan resimen itu adalah Mayor Rasyad Nawawi. Sedangkan Kepala Stafnya adalah Kapten Anwar Arsyad. Bagi saya yang hampir sepanjang kehidupan profesional berada dalam lingkungan militer, jabatan Kepala Staf Resimen bukanlah sekadar sebuah nama dalam bagan organisasi.
Seorang kepala staf membantu komandan mengendalikan seluruh kehidupan satuan: operasi, personel, logistik, komunikasi, administrasi, pergerakan pasukan dan perencanaan. Lebih dari itu, Resimen 44 bukan resimen dalam keadaan damai. Republik sedang berperang. Satuan-satuannya tersebar dalam beberapa wilayah penting, termasuk Tanjung Raja, Sirah Pulau Padang, Tanjung Sejaro, Kayuagung dan kawasan lain yang menjadi bagian dari pertahanan Sumatera Selatan.
Karena itu saya merasa tidak perlu memberikan hiasan berlebihan kepada jabatan Ayah. Fakta bahwa seorang pemuda berusia dua puluh enam tahun dipercaya menjadi Kepala Staf sebuah resimen tempur ketika Republik baru berumur sekitar satu setengah tahun sudah cukup berbicara dengan sendirinya. Dan ternyata Resimen 44 juga mempertemukan ayah dengan sejumlah nama yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Sumatera Selatan dan Indonesia.
Salah satunya adalah Alamsyah Ratu Prawiranegara.
Pada awal 1947 Alamsyah berada pada unsur staf Brigade Garuda Merah, sedangkan Kapten Anwar Arsyad menjadi Kepala Staf Resimen 44 di bawah brigade tersebut. Jadi keduanya berada dalam satu struktur komando yang sama. Ketika situasi perang berubah sesudah serangan Belanda pada Juli 1947, Alamsyah kemudian tampil sebagai Pejabat Komandan Resimen 44/Gerilya dan memimpin perjuangan gerilya di kawasan Ogan-Komering dan wilayah lain di Sumatera Selatan.
Apakah ketika Alamsyah mengambil alih komando Resimen 44 ayah masih menjadi Kepala Stafnya? Sampai sekarang saya belum menemukan dokumen yang dapat memastikan hal tersebut. Dalam keadaan perang, reorganisasi dan perpindahan perwira dapat berlangsung sangat cepat. Karena itu saya tidak ingin mengisi ruang kosong itu dengan asumsi.
Tetapi satu hal dapat dikatakan dengan lebih mantap: Alamsyah dan Anwar Arsyad berada dalam jaringan komando yang sama pada masa ketika Resimen 44 sedang menjadi salah satu kekuatan tempur penting di Sumatera Selatan. Nama lain yang kemudian muncul adalah Asnawi Mangku Alam. Asnawi ketika itu belum menjadi tokoh politik atau Gubernur Sumatera Selatan seperti yang dikenal generasi berikutnya. Ia adalah seorang perwira muda.
Dalam riwayat perjuangannya, ia tercatat sebagai Wakil Komandan Batalyon XXXIV di Kayuagung, sebuah batalyon yang berada dalam lingkungan Resimen 44. Artinya, pada periode ketika Mayor Rasyad Nawawi menjadi Komandan Resimen 44 dan Kapten Anwar Arsyad menjadi Kepala Stafnya, Asnawi Mangku Alam berada dalam salah satu satuan di bawah resimen tersebut.
Saya tidak mempunyai bukti bahwa ayah dan Asnawi mempunyai hubungan pribadi yang dekat. Tetapi secara organisasi mereka berada dalam satu struktur militer.
Kepala staf resimen tentu bekerja dengan para komandan dan staf batalyon di bawah resimennya. Cukuplah sejarah menyatakan keduanya berada dalam satu jaringan perjuangan tanpa kita menambahkan hubungan yang tidak dapat dibuktikan.
Ada pula nama Yahya Bahar. Dalam sistem pertahanan wilayah Sumatera Selatan pada masa itu, Yahya Bahar berada di lingkungan sektor pertahanan Payakabung.
Kawasan tersebut berhubungan dengan sistem pertahanan yang mengamankan jalur menuju Indralaya, Prabumulih dan wilayah sekitarnya. Ia kemudian menjalani karier panjang dalam Angkatan Darat dan menjadi salah seorang tokoh veteran Sumatera Selatan. Sementara Sainan Sagiman memainkan peranan yang berbeda. Ia berada dalam unsur combat intelligence atau intelijen tempur Sumatera Selatan. Dalam suatu perang, intelijen bukan pelengkap. Informasi mengenai kekuatan lawan, pergerakan pasukan, keadaan wilayah, jalur komunikasi dan kemungkinan serangan merupakan bagian yang menentukan dari keputusan komando.

Saya tidak menemukan bukti bahwa Sainan Sagiman secara langsung menjadi bagian dari staf Resimen 44. Karena itu namanya lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari jaringan yang lebih luas dari sistem pertahanan Sumatera Selatan ketika ayah bertugas sebagai perwira staf.
Yang penting bagi saya bukan memasukkan sebanyak mungkin nama terkenal ke dalam kisah ayah. Justru sebaliknya. Nama-nama itu membantu kita memahami bahwa Kapten Achmad Anwar Arsyad tidak hidup dalam ruang kosong. Ia berada dalam sebuah generasi perwira muda yang bersama-sama membangun kekuatan bersenjata Republik dari keadaan yang nyaris tidak mempunyai apa-apa.
Bambang Utoyo, Rasyad Nawawi, Alamsyah Ratu Prawiranegara, Asnawi Mangku Alam, Yahya Bahar, Sainan Sagiman, Ibnu Sutowo, Maludin Simbolon, Barlian dan nama-nama lain adalah bagian dari lingkungan sejarah tersebut. Kemudian datang Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Belanda menyerang kedudukan-kedudukan Republik dan pertahanan Sumatera Selatan menghadapi tekanan berat. Garis pertahanan bergeser. Beberapa kota dan daerah strategis jatuh. Pasukan Republik harus mundur, membangun pertahanan baru, melakukan konsolidasi, kemudian bergerak dalam pola perang yang semakin bersifat gerilya.
Tiga hari setelah serangan dimulai, pada malam 24 Juli 1947, para pemimpin pasukan melakukan perundingan menghadapi keadaan yang genting. Dalam Madjalah Angkatan Darat yang kemudian merekam kejadian tersebut terdapat beberapa nama perwira yang hadir. Diantaranya disebut Kapten Ryacudu, Kapten Malik dan Kapten Anwar Arsjad. “Arsjad” tentu merupakan ejaan lama dari Arsyad.
Bagi saya, satu penyebutan itu mempunyai nilai yang sangat besar.
Ia tidak sekadar menunjukkan bahwa nama ayah pernah tercantum dalam struktur organisasi. Ia menempatkan dirinya secara langsung dalam suatu konsolidasi operasional ketika Belanda sedang melancarkan serangan terhadap Republik.
Dengan demikian, setidaknya ada tiga pijakan yang cukup jelas untuk memahami peran ayah dalam revolusi. Ia sudah tercatat sebagai Kapten pada masa awal tentara Republik. Ia kemudian menjadi Kepala Staf Resimen 44. Dan pada hari-hari pertama Agresi Militer Belanda I, namanya muncul dalam perundingan para pemimpin pasukan yang sedang menghadapi keadaan perang.
Bagi saya, bukti seperti itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa Kapten Achmad Anwar Arsyad adalah seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Tetapi perang tidak hanya dijalani oleh orang-orang yang mengenakan seragam. Ibu saya, Rosmimi Binti Abdul Muthalib, juga menjadi bagian dari masa yang luar biasa tersebut. Dalam ingatan keluarga, sejak muda ia membantu merawat anggota TKR yang terluka sebagai sukarelawan.
Ia juga bergabung dalam kelompok orkes dan bernyanyi untuk menghibur para prajurit. Bagi generasi sekarang, kegiatan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dalam perang kemerdekaan, kehidupan pasukan tidak hanya bergantung pada orang yang membawa senapan. Ada perempuan yang merawat korban, masyarakat yang menyediakan makanan, orang yang menjadi kurir, pemuda yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain dan keluarga yang menerima risiko karena suami, Ayah atau saudara mereka berada di garis perjuangan.
Ibu adalah bagian dari lingkungan itu. Pada 19 Agustus 1947, kurang dari sebulan sesudah Agresi Militer Belanda I dimulai, kakak perempuan saya, Sri Prabu Yulia, lahir di Prabumulih. Dalam cerita keluarga yang saya dengar, ibu pada saat itu berada dalam interniran atau tahanan Belanda bersama beberapa istri Perwira Republik.
Saya belum menemukan dokumen resmi yang mencantumkan nama ibu dalam daftar orang yang ditahan. Karena itu kisah tersebut tetap saya tempatkan sebagaimana adanya: sebuah ingatan keluarga. Tetapi konteks sejarahnya sesuai dengan keadaan ketika itu. Prabumulih merupakan salah satu kawasan penting dalam gerakan pasukan dan tekanan Belanda.
Bayangkan seorang perempuan muda harus melahirkan anaknya ketika suaminya berada dalam organisasi militer Republik yang sedang berperang, sementara dirinya sendiri hidup dalam keadaan interniran.
Di sanalah sejarah perang berubah dari sesuatu yang sering kita baca sebagai strategi dan operasi menjadi pengalaman manusia yang nyata.

Setelah 1947, jejak administratif ayah menjadi lebih sulit diikuti. Kita mengetahui Resimen 44 memasuki fase gerilya di bawah Alamsyah. Kita mengetahui pasukan bergerak melalui kawasan Ogan-Komering dan berbagai wilayah lain. Tetapi kita belum menemukan dokumen yang menjelaskan dengan pasti di mana Kapten Anwar Arsyad ditempatkan setelah struktur awal Resimen 44 berubah.
Beberapa tahun berikutnya memberikan petunjuk. Setelah berbagai reorganisasi, muncul struktur SUBKOSS—Sub Komandemen Sumatera Selatan—yang menjadi salah satu pusat komando utama perjuangan di Sumatera bagian selatan. Tokoh sentral dalam fase ini adalah Kolonel Maludin Simbolon, dengan dr. Ibnu Sutowo dalam unsur pimpinan stafnya.
Wilayah tanggung jawab organisasi tersebut luas. Palembang, Lampung, Jambi dan Bengkulu berada dalam jaringan komando yang saling berhubungan. Di sinilah nama Maludin Simbolon menjadi sangat menarik bagi saya secara pribadi. Sejak masih muda saya mempunyai ingatan tentang nama M. Simbolon dalam dokumen-dokumen lama milik ayah. Sudah hampir tujuh puluh tahun berlalu sehingga saya tidak lagi dapat memastikan nomor surat, tanggal ataupun konteks lengkapnya. Saya juga mengingat nama Ventje Sumual pernah muncul dalam salah satu surat lama.
Tetapi ketika sejarah organisasinya ditelusuri, Maludin Simbolon mempunyai hubungan yang sangat jelas dengan struktur komando Sumatera Selatan yang kemudian mencakup Bengkulu. Itu menjadi penting karena keluarga kami kemudian berada di Bengkulu. Saya sendiri lahir di Bengkulu pada 29 Juli 1949.
Adik saya, Almarhum Brigjen Pol (Purn) Yuzwar Arsyad, juga lahir di Bengkulu pada 2 Mei 1951. Jadi keberadaan keluarga kami di Bengkulu bukan sebuah kunjungan singkat. Setidaknya selama periode itu, Bengkulu merupakan bagian nyata dari kehidupan keluarga kami.
Pertanyaannya adalah: Mengapa Ayah berada di sana? Kita belum mempunyai surat perintah yang menjawabnya. Belum ditemukan daftar organisasi Sub Teritorial Bengkulu yang mencantumkan nama Kapten Anwar Arsyad pada jabatan tertentu. Karena itu saya tidak ingin mengatakan bahwa telah terbukti secara dokumenter ayah ditugaskan pada posisi tertentu di Bengkulu.
Tetapi konteks militernya sangat masuk akal. Ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung, jalur Lubuklinggau–Curup–Kepahiang–Bengkulu menjadi bagian dari ruang operasi penting Republik. Pergerakan pasukan dan markas mengikuti tekanan Belanda. Sumatera Selatan dan Bengkulu tidak dipisahkan oleh dua sistem komando yang berdiri sendiri, tetapi berhubungan dalam struktur SUBKOSS.
Dengan demikian, perpindahan seorang perwira yang sebelumnya berada dalam Resimen 44 dan Brigade Garuda Merah menuju wilayah Bengkulu sangat mungkin terjadi. Kita hanya belum mengetahui jabatan persisnya. Justru dari periode Bengkulu itulah tersimpan sebuah kenangan masa kecil yang paling kuat bagi saya: ayah pernah dikenal sebagai “Harimau Bengkulu.”
Konon julukan itu diberikan karena keberaniannya.
Apakah julukan tersebut tercantum dalam laporan militer? Sejauh penelusuran yang dilakukan, belum ditemukan. Apakah itu berarti julukan tersebut tidak pernah ada? Tidak juga. Sejarah mempunyai dua jalur penyimpanan. Yang pertama adalah arsip: surat perintah, laporan operasi, daftar organisasi, keputusan dan catatan resmi. Yang kedua adalah ingatan manusia: cerita para pelaku, keluarga, kawan seperjuangan dan masyarakat.
Keduanya tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang sama. Tetapi keduanya merupakan bagian dari cara sebuah generasi mengingat masa lalu. Karena itu “Harimau Bengkulu” saya pertahankan dalam tanda kutip. Bukan sebagai gelar resmi, melainkan sebagai bagian dari oral history keluarga yang sudah saya dengar sejak kecil.
Nama M.Z. Ranni juga saya ingat sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian saya mengetahui bahwa Muhammad Zen Ranni memang merupakan salah seorang pelaku perjuangan di Bengkulu dan menulis sebuah karya penting mengenai perlawanan terhadap penjajahan dan perjuangan menegakkan kemerdekaan di daerah tersebut. Apakah Ranni dan ayah berteman dekat? Saya tidak tahu.
Apakah mereka pernah berada dalam satu komando? Belum ditemukan bukti yang cukup untuk mengatakannya. Tetapi kenyataan bahwa namanya hidup dalam ingatan keluarga menjadi lebih dapat dipahami ketika kita mengetahui bahwa Ranni memang berada di lingkungan perjuangan Bengkulu pada masa yang sama.
Demikian pula dengan nama Ventje Sumual yang masih tersimpan dalam ingatan saya dari surat lama. Setelah ditelusuri, Sumual bukan Panglima wilayah Sumatera Selatan pada periode yang relevan. Karena itu saya tidak ingin menghubungkannya secara paksa dengan surat pemberhentian ayah atau dengan TT II/Sriwijaya. Mungkin nama itu terdapat dalam dokumen lain.
Mungkin dua dokumen yang berbeda telah menyatu dalam ingatan seorang anak yang membacanya puluhan tahun lalu.
Yang lebih penting adalah kita tidak mengubah ingatan menjadi fakta hanya karena ingin membuat cerita lebih lengkap.
Ayah akhirnya meninggalkan kehidupan militer. Masa sesudah pengakuan kedaulatan memang merupakan periode perubahan besar dalam Angkatan Perang. Tentara yang lahir dari revolusi harus ditata kembali menjadi kekuatan negara yang lebih profesional. Reorganisasi, rasionalisasi, penyesuaian pangkat dan penyusunan ulang satuan berlangsung di berbagai wilayah.
Dalam keluarga, saya mengetahui bahwa ayah kemudian memilih meninggalkan dinas ketentaraan. Saya masih mempunyai ingatan samar mengenai surat yang berkaitan dengan masa tersebut. Nama Maludin Simbolon sangat kuat dalam ingatan saya. Tetapi tanpa dokumen asli saya tidak ingin mengatakan bahwa Simbolon yang menandatangani pemberhentiannya.
Lebih baik sejarah mengakui apa yang belum diketahuinya daripada mengubah kemungkinan menjadi kepastian. Ada satu keputusan ayah yang bagi saya semakin menarik setelah mengetahui kembali jejak perjuangannya ia tidak pernah mendaftarkan dirinya sebagai Veteran Republik Indonesia.
Mengapa? Saya tidak pernah bertanya.
Mungkin baginya ikut berjuang bukan sesuatu yang perlu diberikan penghargaan khusus. Mungkin generasinya melihat apa yang mereka lakukan sebagai kewajiban pada saat negara memerlukan mereka. Mungkin ia memang mempunyai watak yang tidak suka menonjolkan diri.
Pernah pula timbul pertanyaan dalam diri saya apakah diamnya ayah mempunyai hubungan dengan pengalaman perang.
Ia pernah ditahan tentara Jepang dan berhasil melarikan diri. Mengenai episode itu, saya sekarang sangat yakin bahwa cerita keluarga memang menyebut Jepang, bukan Belanda. Pada awalnya saya sempat ragu karena Jepang sudah menyerah ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan dimulai. Tetapi secara sejarah tidak ada pertentangan. Sesudah Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, pasukan Jepang tidak serta-merta meninggalkan Indonesia. Mereka masih bersenjata dan berada di berbagai instalasi sampai Sekutu tiba. Bentrokan antara pemuda Republik dan pasukan Jepang dalam perebutan senjata maupun kekuasaan terjadi di berbagai daerah.
Bagaimana Ayah ditangkap, di mana ia ditahan, berapa lama, dan bagaimana ia berhasil melarikan diri, saya tidak tahu.
Saya hanya mengetahui ceritanya. Apakah pengalaman seperti itu membuat seseorang enggan membuka kembali masa perang? Mungkin. Apakah itu alasan ayah kemudian meninggalkan tentara dan tidak pernah mendaftarkan diri sebagai veteran? Kita tidak mempunyai dasar untuk mengatakan demikian. Saya tidak ingin memberi diagnosis psikologis kepada seseorang yang tidak lagi dapat menjawab sendiri.
Fakta yang saya ketahui jauh lebih sederhana: Ayah hampir tidak pernah bercerita tentang perang kepada anak-anaknya. Ia memilih diam.
Puluhan tahun kemudian sejarah justru memberikan sebuah bentuk pengakuan yang tidak pernah ia minta. Sekitar tahun 2000, ketika saya menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan, Wali Kota Palembang saat itu, almarhum H. Husni, mengambil inisiatif untuk mengabadikan nama ayah sebagai nama jalan. Ruas jalan di sebelah kiri kompleks Griya Agung dari arah Pakjo kemudian diberi nama Jalan Kapten Achmad Anwar, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Kapten A Anwar Arsyad.
Bagi saya penting untuk menjelaskan bahwa inisiatif tersebut bukan datang dari saya. Saya adalah gubernur dan Achmad Anwar Arsyad adalah ayah saya. Karena itu mudah sekali orang beranggapan bahwa seorang gubernur memberi nama jalan kepada ayahnya sendiri. Tidak demikian. Gagasan itu datang dari Wali Kota H Husni.
Ada sesuatu yang sangat menyentuh dalam kenyataan tersebut. Seorang laki-laki yang sepanjang hidupnya hampir tidak pernah menceritakan jasa perjuangannya kepada anak-anak, yang tidak pernah mendaftarkan diri untuk memperoleh status veteran, akhirnya namanya diabadikan oleh kotanya.
Dan jalan itu terletak di samping Griya Agung, rumah dinas gubernur yang kemudian pernah ditempati putranya.
Sejarah kadang mempunyai cara yang aneh untuk menyelesaikan lingkarannya sendiri. Semakin jauh saya menelusuri kisah ayah, semakin saya menyadari bahwa tulisan ini sebenarnya bukan hanya mengenai satu orang.
Kapten Achmad Anwar Arsyad merupakan bagian dari sebuah generasi.
Mereka adalah pemuda berusia dua puluhan yang ketika Republik lahir tidak mengetahui apakah negara baru itu akan dapat bertahan sampai satu tahun berikutnya.
Mereka tidak tahu apakah Belanda akan berhasil menguasai kembali seluruh Indonesia. Mereka tidak mengetahui apakah suatu hari dunia akan mengakui Republik yang mereka pertahankan. Mereka membentuk satuan dengan perlengkapan yang terbatas, bergerak dari kota ke desa, kehilangan wilayah, membangun pertahanan baru, berunding, bergerilya dan terus mempertahankan keberadaan Republik.
Sebagian dari mereka kemudian menjadi nama besar. Alamsyah Ratu Prawiranegara kemudian dikenal luas dalam pemerintahan nasional. Asnawi Mangku Alam kelak menjadi Gubernur Sumatera Selatan. Sainan Sagiman juga kemudian memimpin Sumatera Selatan. Bambang Utoyo, Maludin Simbolon, Ibnu Sutowo, Barlian dan perwira-perwira lain menjalani perjalanan masing-masing setelah revolusi.
Ayah tidak menempuh jalan itu.
Ia meninggalkan ketentaraan dan kembali menjadi warga biasa. Tetapi menjadi warga biasa setelah perang tidak menghapus apa yang pernah dilakukan seseorang ketika negaranya berada dalam bahaya. Dokumen organisasi menyebut namanya sebagai Kapten Anwar Arsyad, Kepala Staf Resimen 44.
Catatan masa Agresi Militer Belanda I menempatkannya dalam perundingan para perwira yang sedang menghadapi serangan.
Perjalanan keluarganya membawa jejak dari Prabumulih menuju Bengkulu.
Dalam cerita keluarga, istrinya, Rosmimi, merawat prajurit yang terluka dan mengalami interniran ketika melahirkan anak. Dalam ingatan masa kecil saya tersimpan cerita tentang penahanan oleh Jepang dan pelarian.
Dan sebuah nama tetap hidup di telinga saya sampai sekarang: “Harimau Bengkulu.”
Saya tidak ingin menjadikan ayah seorang tokoh yang lebih besar daripada kenyataan sejarahnya. Tetapi saya juga tidak ingin karena kerendahan hati beliau sendiri, jejak perjuangannya ikut hilang.
Pada usia saya sekarang, ada penyesalan bahwa saya tidak bertanya lebih banyak ketika beliau masih hidup.
Saya tidak pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi Kepala Staf Resimen 44. Saya tidak pernah bertanya siapa kawan-kawan terdekatnya. Saya tidak pernah bertanya tentang Alamsyah, Asnawi Mangku Alam, Rasyad Nawawi, Maludin Simbolon atau M.Z. Ranni.
Saya tidak pernah bertanya bagaimana ia ditangkap Jepang. Saya tidak bertanya bagaimana ia melarikan diri.
Saya juga tidak bertanya mengapa akhirnya ia meninggalkan ketentaraan dan mengapa tidak pernah mendaftarkan diri sebagai veteran. Ketika masih muda, kita selalu merasa orang tua akan berada di sekitar kita untuk waktu yang tidak terbatas.
Kemudian suatu hari kita ingin bertanya.
Dan orang yang mempunyai jawabannya sudah tidak ada.
Untunglah tidak semuanya hilang. Masih ada buku. Masih ada arsip. Masih ada catatan operasi. Masih ada nama-nama kawan seperjuangan. Masih ada foto. Masih ada sebuah jalan di Palembang yang membawa namanya. Dan masih ada ingatan keluarga, meskipun beberapa bagiannya tidak lagi lengkap. Itulah sebabnya tulisan ini perlu dibuat.
Bukan untuk memperoleh pengakuan yang tidak pernah diminta ayah. Bukan untuk meminta negara memberinya gelar setelah sekian puluh tahun. Dan bukan pula untuk menciptakan legenda baru. Tulisan ini hanya ingin menempatkan kembali seorang manusia ke dalam sejarah zamannya.
Seorang pemuda yang ketika Republik baru berdiri memilih masuk ke dalam ketentaraan. Seorang Kapten. Seorang Kepala Staf Resimen 44. Seorang perwira yang berada di tengah perang mempertahankan kemerdekaan. Seorang suami dan ayah yang keluarganya ikut mengalami akibat revolusi.
Seorang laki-laki yang kemudian meninggalkan tentara dan hampir tidak pernah menceritakan apa yang pernah ia lakukan.
Pada 23 September 2026, 106 tahun setelah kelahirannya, saya ingin mengenangnya sebagaimana ia tampaknya ingin menjalani hidupnya: Tanpa banyak suara tentang dirinya sendiri. Kapten Achmad Anwar Arsyad mungkin tidak pernah meminta disebut Pahlawan. Ia bahkan tidak pernah mendaftarkan dirinya sebagai veteran. Tetapi ketika Republik Indonesia membutuhkan orang-orang untuk berdiri mempertahankannya, catatan sejarah menunjukkan bahwa ia berada di sana.
Bagi saya sebagai seorang anak, itu lebih dari cukup. Ia memilih diam. Kini biarlah sejarah yang berbicara untuknya.
Daftar Pustaka dan Sumber Alamsjah Ratu Perwiranegara
Perjuangan Kemerdekaan Sumatera Bagian Selatan 1945–1950. 1987.
Alamsjah Ratu Perwiranegara, Suparwan G. Parikesit, dan Krisna R. Sempurnadjaja. Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995.
Ranni, M.Z. Perlawanan terhadap Penjajahan dan Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan Indonesia di Bumi Bengkulu. Jakarta: Balai Pustaka, 1990; cetakan berikutnya 1993.
Tim Penyusun Sejarah Perjuangan SUBKOSS. Sejarah dan Peranan SUBKOSS dalam Perjuangan Rakyat Sumbagsel 1945–1950.
Palembang: Dewan Harian Daerah 45 Sumatera Selatan, 2003.
Susetyo, Berlian dan Ravico. “Peran Kolonel Maludin Simbolon sebagai Panglima Sub Teritorium Sumatera Selatan (SUBKOSS) di Lubuklinggau Tahun 1947–1948.” Tamaddun:
Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, Vol. 9, No.1, 2021.
Madjalah Angkatan Darat. Catatan mengenai operasi dan konsolidasi pasukan Sumatera Selatan setelah Agresi Militer Belanda I, termasuk penyebutan Kapten Anwar Arsjad dalam perundingan 24 Juli 1947.
Journal of Indonesian History, Vol. 9, No. 2, 2020.
Kajian mengenai perkembangan organisasi TKR/TRI di Sumatera Selatan dan lingkungan perwira tentara Republik pada masa awal kemerdekaan.
Kajian sejarah mengenai Asnawi Mangku Alam dan keterlibatannya sebagai perwira Batalyon XXXIV/Kayuagung dalam lingkungan Resimen 44 pada masa Revolusi Kemerdekaan, koleksi akademik Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.
Riwayat perjuangan H. Yahya Bahar dan sejarah pertahanan wilayah Sumatera Selatan pada masa Revolusi Kemerdekaan, termasuk sektor Payakabung.
Riwayat Sainan Sagiman sebagai perwira intelijen tempur Sumatera Selatan pada masa Revolusi Kemerdekaan dan masa awal TT II/Sriwijaya.
Museum Perjuangan SUBKOSS Garuda Sriwijaya. Koleksi dan sejarah struktur SUBKOSS serta perjuangan Sumatera Bagian Selatan.
Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Riwayat Maludin Simbolon dan tokoh-tokoh militer Revolusi Kemerdekaan.
Arsip Nasional Republik Indonesia. Koleksi Departemen Pertahanan dan Keamanan serta arsip Legiun Veteran Republik Indonesia untuk Sumatera Selatan dan Bengkulu.
Pemerintah Kota Palembang. Dokumen yang menggunakan nomenklatur Jalan Kapten A. Anwar Arsyad, Palembang.
Sumber sekunder mengenai sejarah Jalan Kapten A. Anwar Arsyad dan riwayat Kapten Achmad Anwar Arsyad dalam pers daerah Sumatera Selatan. Digunakan secara hati-hati dan dibandingkan dengan sumber sejarah lainnya.
Kesaksian keluarga Achmad Anwar Arsyad dan Rosmimi binti Abdul Muthalib mengenai penahanan Achmad Anwar Arsyad oleh tentara Jepang dan keberhasilannya melarikan diri; kegiatan Rosmimi sebagai sukarelawan yang membantu merawat anggota TKR yang terluka dan ikut menghibur pasukan; kelahiran Sri Prabu Yulia di Prabumulih pada 19 Agustus 1947 ketika Rosmimi berada dalam interniran; keberadaan keluarga di Bengkulu pada 1949–1951; julukan “Harimau Bengkulu”; serta ingatan mengenai dokumen lama yang memuat nama Maludin Simbolon dan Ventje Sumual.
Bagian-bagian tersebut diperlakukan sebagai sejarah lisan keluarga dan tidak disamakan dengan fakta yang telah memperoleh konfirmasi dokumenter. Yasyi Hill, 23 September 2026. (***)