Dr H Ahmad Rizali MA Pengamat Pemerintahan Daerah Sumsel. (Foto-KoranSN)
Dr H Ahmad Rizali MA Pengamat Pemerintahan Daerah Sumsel. (Foto-KoranSN)
Politik

Soal Ratu Dewa Ngaku Enjoy, "Leadership of Pseudo Communication”

oleh Apriandi | Selasa, 06 Oktober 2026

 Oleh: Dr H Ahmad Rizali MA Pengamat Pemerintahan Daerah Sumsel

PENGAMAT Pemerintahan Daerah Sumsel, Dr H Ahmad Rizali MA, Selasa (6/01/2026) menyampaikan kajiannya menyikapi Walikota Palembang Ratu Dewa mengaku 'enjoy' walaupun kualitas udara Palembang kian memburuk dan berbahaya akibat kabut asap Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)

Berikut Kajiannya:

Menurut Dr H Ahmad Rizali, pernyataan Walikota Ratu Dewa menanggapi meningkatnya kabut asap tersebut dalam ilmu komunikasi disebut dengan "Leadership of Pseudo Communication" yang pada hakikatnya Walikota sangat bersimpati dan berempati dengan penderitaan warga kota Palembang.

“Walikota tidak ingin terlihat lemah dan panik di mata publik atau masyarakatnya. Sementara di sisi lain Ratu Dewa terus menerus menugaskan satuan-satuan kerja kesehatan seperti Rumah Sakit Bari dan Rumah Sakit Gandus, juga UPTD-UPTD Puskesmas yang berlokasi di 17 kecamatan di Palembang untuk optimal membantu warga yang kena dampak ISPA. Juga maksimal menyiagakan 24 jam pasukan di 10 satuan kerja pemadam kebakaran untuk standby mengatasi kemungkinan bencana kebakaran," ujarnya.

Masih dikatakannya, Walikota Palembang juga melakukan koordinasi dengan TNI dan Polri hingga ke tingkat Babinsa dan Babinkamtibmas yang terus dilakukan secara berjenjang.

"Sementara itu di sisi lain Walikota Ratu Dewa juga mempunyai keterbatasan wilayah dan kewenangan. Hal ini secara faktual di lapangan terlihat bahwa kebakaran hutan dan lahan secara luas justru banyak terjadi di luar wilayah kota Palembang. Seperti OKI, OI, Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Muara Enim,” ungkapnnya.

Dikatakan Dr H Ahmad Rizali bahwa dalam pengamatannya Walikota Ratu Dewa fokus untuk mengatasi bencana Karhutla dengan seluruh jajaran di tingkat Kecamatan, Kelurahan, RT, dan RW.

"Walikota Ratu Dewa dengan beban kerja yang cukup padat dapat saja ingin memberikan respon yang baik agar masyarakat tidak panik, namun ditanggapi berbeda. Dalam ilmu komunikasi disebut "a slip of the tounge”,” tandasnya. (***)