Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Palembang, Sumatera Selatan, menjalankan program melatih warga Pulokerto, Kecamatan Gandus untuk membuat tempe guna mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program desa binaan. (Foto-ANTARA/HO/LPP Palembang)
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Palembang, Sumatera Selatan, menjalankan program melatih warga Pulokerto, Kecamatan Gandus untuk membuat tempe guna mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program desa binaan. (Foto-ANTARA/HO/LPP Palembang)
Ekonomi

Lapas Perempuan Palembang Latih Warga Setempat Produksi Tempe

oleh Apriandi | Jumat, 04 September 2026

Palembang, LensaSN

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Palembang, Sumatera Selatan, menjalankan program melatih warga Pulokerto, Kecamatan Gandus untuk membuat tempe guna mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program desa binaan.

Kasi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Palembang Sariany Nababan di Palembang, Jumat (4/9/2026), menyatakan program ini bertujuan membagikan keterampilan produksi dari dalam lapas agar dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai peluang usaha rumahan.

"Pemilihan komoditas tempe didasari oleh proses produksinya yang terjangkau serta memiliki prospek ekonomi yang berkelanjutan," katanya.

Menurutnya dalam program itu, sebanyak 50 warga desa binaan mendapatkan pembekalan kemampuan membuat atau memproduksi tempe.

Selain itu, pihaknya juga memberikan kesempatan bagi warga binaan lapas untuk terlibat sebagai pengajar agar menjadi upaya proses reintegrasi sosial. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan diri warga binaan sebelum kembali ke tengah masyarakat setelah masa pidananya usai.

Camat Gandus, Palembang Jufriansyah mengatakan pelatihan ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan mampu menggerakkan potensi UMKM lokal dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

"Kami harapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan mampu menggerakkan potensi UMKM lokal dan meningkatkan kesejahteraan keluarga," katanya.

Sementara itu, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas II A Palembang, Sumatera Selatan mampu memproduksi sebanyak 25 kilogram tempe per hari, sebagai komitmen meningkatkan produktivitas serta kemandirian warga binaan.

Sebelumnya, Kepala LPP Kelas II A Palembang Desi Andriyani mengatakan produksi tempe ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan bagian dari program manufaktur yang dikelola secara profesional di dalam area Lapas.

​"Kami ingin memastikan bahwa ketika mereka bebas nanti, mereka memiliki skill nyata. Produksi tempe ini dipilih karena merupakan bahan pangan pokok yang permintaannya selalu stabil," ujarnya.

Ia menambahkan total produksi tempe tersebut jika dikalikan satu bulan bisa mencapai 750 kilogram, namun produksi juga bisa lebih tergantung jumlah pemesanan.

"Kami produksi tergantung pemesanan, jika masyarakat ingin memesan bisa secara langsung sama kami," katanya. (Antara)