Dari Generasi Strawberry Menuju Generasi Bijaksana: Akankah Mereka Mampu Menjaga Peradaban?
Oleh: Laksamana Muda (Purn) Rosihan Arsyad
SETIAP zaman melahirkan generasinya sendiri. Setiap generasi tidak hanya dibesarkan oleh orang tua dan sekolah, tetapi juga dibentuk oleh keadaan dunia ketika mereka tumbuh: perang dan perdamaian, kemakmuran dan krisis, perkembangan ilmu pengetahuan, perubahan sistem ekonomi, teknologi, kebudayaan, serta berbagai peristiwa besar yang menjadi pengalaman formatif mereka.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang Generasi Z, kita sebaiknya tidak tergesa-gesa menilainya sebagai generasi yang lebih baik atau lebih buruk daripada generasi sebelumnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah dunia seperti apa yang telah membentuk mereka, tantangan apa yang akan mereka hadapi, dan manusia seperti apa yang dibutuhkan untuk mengelola dunia yang kelak mereka warisi.
Pertanyaan itu semakin relevan karena Generasi Z bukan lagi sekadar anak-anak yang sibuk dengan telepon genggam. Sebagian dari mereka sudah memasuki universitas, dunia kerja, perusahaan, birokrasi, profesi, organisasi kemasyarakatan, bahkan mulai membangun keluarga. Dalam beberapa dekade mendatang merekalah yang akan menjadi dokter, insinyur, guru, pengusaha, ilmuwan, perwira, pejabat publik, pembuat kebijakan, dan pemimpin masyarakat. Sesudah mereka akan datang Generasi Alpha, disusul Generasi Beta yang sejak lahir akan hidup dalam lingkungan ketika kecerdasan buatan bukan lagi teknologi baru, melainkan bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, membicarakan Gen Z sesungguhnya bukan sekadar membicarakan perilaku anak muda. Kita sedang membicarakan generasi yang dalam beberapa dekade mendatang akan menerima tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan masyarakat dan peradaban ketika generasi-generasi sebelumnya secara alamiah meninggalkan panggung sejarah.
Dari Greatest Generation Sampai Generasi Beta
Istilah generasi sebenarnya hanyalah alat analisis sosial. Batasnya tidak bersifat biologis dan tidak ada satu lembaga internasional yang menentukan secara resmi bahwa seseorang yang lahir pada tahun tertentu harus mempunyai karakter tertentu. Pew Research Center sendiri mengingatkan bahwa batas generasi bukanlah ilmu pasti dan bahwa perbedaan di dalam satu generasi dapat sama besarnya dengan perbedaan antara satu generasi dengan generasi lainnya.
Meskipun demikian, pembagian generasi tetap berguna untuk memahami perubahan sosial dalam rentang waktu panjang. Dalam pembagian yang banyak digunakan, Greatest Generation mencakup mereka yang lahir sekitar 1901-1927, disusul Silent Generation sekitar 1928–1945, Baby Boomers pada 1946–1964, Generasi X sekitar 1965–1980 dan Millennials atau Generasi Y sekitar 1981-1996. Pew Research Center menggunakan tahun 1997 sebagai awal Generasi Z. Sementara itu, pembagian yang dipopulerkan oleh demografer Mark McCrindle menempatkan Generasi Alpha pada sekitar 2010–2024 dan Generasi Beta pada 2025–2039. Karena tidak ada batas universal, beberapa tahun kelahiran memang dapat tumpang tindih antara satu klasifikasi dengan klasifikasi lainnya.
Yang lebih penting daripada memperdebatkan batas tahun adalah memahami formative environment masing-masing generasi. Generasi yang mengalami Perang Dunia II mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Baby Boomers yang tumbuh dalam pembangunan pascaperang. Generasi X mengalami masa ketika mesin tik, telepon rumah, surat, peta kertas dan teknologi analog secara perlahan digantikan komputer pribadi dan komunikasi digital. Millennials mengalami kelahiran serta ekspansi internet. Gen Z lahir ketika internet sudah tersedia dan tumbuh bersama smartphone, media sosial, Wi-Fi, streaming, mesin pencari dan komunikasi yang hampir seketika.
Pew mencatat bahwa ketika iPhone diperkenalkan pada 2007, anggota tertua Gen Z baru berusia sekitar sepuluh tahun. Dengan demikian, bagi mereka konektivitas digital bukanlah revolusi teknologi yang datang ketika sudah dewasa. Ia merupakan bagian dari lingkungan kehidupan sejak masa kanak-kanak. Generasi Alpha melangkah lebih jauh lagi karena tumbuh bersama tablet, cloud computing, algoritma rekomendasi, perangkat pintar, dan artificial intelligence. Generasi Beta kemungkinan akan mengenal dunia ketika hubungan antara manusia dan kecerdasan buatan sudah jauh lebih terintegrasi daripada sekarang.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita sedang membesarkan generasi yang sejak masa kanak-kanak mempunyai akses hampir seketika kepada sebagian besar pengetahuan manusia. Namun di sinilah muncul sebuah paradoks besar: memiliki akses kepada pengetahuan tidak sama dengan memiliki pengetahuan; memiliki informasi tidak sama dengan memahami; dan memahami sesuatu belum tentu berarti mempunyai kebijaksanaan untuk menentukan apa yang harus dilakukan dengan pemahaman tersebut.
Benarkah Gen Z Generasi Strawberry?
Istilah strawberry generation pada mulanya populer di Taiwan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap seperti buah stroberi: tampak menarik dan baik dari luar tetapi mudah memar ketika mengalami tekanan. Dalam perkembangan penggunaannya, istilah tersebut kemudian meluas ke berbagai masyarakat Asia, termasuk Indonesia, untuk menggambarkan anak muda yang dianggap kurang tahan menghadapi kesulitan, menginginkan hasil dengan cepat, mudah berpindah pekerjaan, sensitif terhadap kritik, tidak menyukai hierarki tradisional, dan kurang bersedia menjalani proses panjang.
Sebagian pengamatan itu mungkin mempunyai dasar dalam pengalaman sehari-hari. Kita memang dapat menemukan anak muda yang menginginkan keberhasilan secara instan, sulit menerima kegagalan, lebih tertarik pada informasi singkat daripada membaca panjang, atau menganggap banyak hal dapat diselesaikan melalui layar. Namun mengubah pengamatan tersebut menjadi kesimpulan bahwa seluruh Gen Z adalah generasi yang rapuh, malas, atau tidak memikirkan masa depan merupakan generalisasi yang terlalu sederhana.
Data justru memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks. Survei global Deloitte tahun 2025 terhadap lebih dari 23.000 responden Gen Z dan Millennials di 44 negara menemukan bahwa masalah keuangan merupakan salah satu sumber kecemasan utama mereka. Hampir separuh responden Gen Z dalam survei tersebut menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Lebih dari separuh Gen Z dan Millennials hidup dari satu gaji ke gaji berikutnya, sementara sekitar empat dari sepuluh mengkhawatirkan kemampuan mereka menjalani masa pensiun dengan nyaman.
Dengan demikian, apa yang dari luar tampak sebagai ketidakpedulian terhadap masa depan dalam sebagian kasus mungkin justru muncul pada generasi yang sangat mengkhawatirkan masa depan, tetapi tidak lagi yakin bahwa jalan yang ditempuh generasi sebelumnya masih tersedia bagi mereka.
Indonesia mempunyai kepentingan sangat besar terhadap persoalan ini. Sensus Penduduk 2020 yang dilakukan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Gen Z merupakan kelompok generasi terbesar, sekitar 27,94 persen penduduk Indonesia, sedangkan Millennials sekitar 25,87 persen. Artinya, kualitas manusia Gen Z bukan persoalan marginal. Ia berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada beberapa dekade mendatang.
Rumah, Kekayaan dan Cara Melihat Masa Depan
Salah satu perubahan sikap yang sering terlihat adalah pandangan sebagian anak muda bahwa memiliki rumah tidak lagi harus menjadi tujuan utama. Mereka bertanya mengapa harus mencicil rumah selama dua puluh atau tiga puluh tahun apabila menyewa rumah yang sama jauh lebih murah.
Pertanyaan itu tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa mereka tidak memikirkan masa depan. Dalam kondisi tertentu, menyewa memang dapat merupakan keputusan finansial yang rasional. Membeli rumah membutuhkan uang muka besar, menimbulkan kewajiban jangka panjang, mengurangi fleksibilitas untuk berpindah tempat, dan mempunyai opportunity cost. Dana yang digunakan untuk membeli rumah secara teoritis dapat diinvestasikan pada aset lain dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
Akan tetapi, perhitungan tersebut menjadi tidak lengkap apabila hanya membandingkan sewa dan cicilan bulan ini. Kehidupan manusia bukanlah laporan arus kas satu tahun, melainkan perjalanan ekonomi selama puluhan tahun. Seseorang yang berusia dua puluh lima atau tiga puluh tahun perlu bertanya apa yang terjadi ketika ia berumur enam puluh, tujuh puluh, atau delapan puluh tahun dan tidak lagi mempunyai pendapatan aktif sebesar ketika masih bekerja. Bila ia memilih menyewa sepanjang hidup, selisih antara biaya sewa dan biaya memiliki rumah harus benar-benar dikonversikan menjadi aset produktif yang mampu membiayai kehidupannya pada masa tua.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Gen Z harus membeli rumah atau boleh menyewa. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah mereka memahami life-cycle financial planning: perbedaan antara konsumsi dan aset, nilai waktu dari uang, inflasi, bunga majemuk, risiko, opportunity cost, dana pensiun, serta hubungan antara keputusan finansial hari ini dan kebebasan ekonomi puluhan tahun kemudian.
Di sinilah critical thinking menjadi lebih penting daripada nasihat sederhana. Tujuan pendidikan finansial bukan memberi satu jawaban yang berlaku untuk semua orang, melainkan membangun kemampuan untuk menghitung konsekuensi jangka panjang dari pilihan yang berbeda.
Generasi dengan Informasi Terbanyak
Persoalan lain yang jauh lebih fundamental adalah perubahan hubungan manusia dengan informasi. Generasi sebelumnya harus mencari informasi. Generasi sekarang hidup dalam keadaan ketika informasi terus-menerus mencari mereka.
Telepon yang berada di tangan bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia sekaligus televisi, surat kabar, perpustakaan, kamera, bioskop, pasar, bank, kantor, permainan, ruang pertemanan, dan sumber hiburan. Melalui algoritma, perangkat tersebut bahkan belajar mengenali apa yang membuat seseorang tertarik, takut, marah, tertawa, atau terus menatap layar.
Dari sinilah berkembang apa yang sering disebut attention economy. Dalam ekonomi ini, perhatian manusia mempunyai nilai ekonomi. Semakin lama seseorang berada pada suatu platform, semakin banyak data yang dapat dikumpulkan dan semakin besar kesempatan untuk menampilkan iklan atau konten berikutnya. Karena itu, yang diperebutkan oleh berbagai platform digital bukan hanya uang pengguna, tetapi juga waktu dan perhatiannya.
Kekhawatiran mengenai dampaknya bukan sekadar keluhan generasi tua. Data Programme for International Student Assessment atau PISA 2022 yang dianalisis Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan hubungan antara distraksi digital dan hasil belajar. Siswa yang melaporkan sering terdistraksi oleh perangkat digital dalam pelajaran matematika rata-rata memperoleh hasil lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang mengalami distraksi, bahkan setelah memperhitungkan sejumlah faktor sosial ekonomi.
Namun kesimpulan yang tepat bukanlah bahwa layar atau teknologi digital harus dianggap sebagai musuh. Teknologi yang sama dapat menjadi instrumen pembelajaran yang luar biasa. Seorang anak dapat menggunakan komputer selama empat jam untuk belajar bahasa asing, membuat program, mempelajari matematika, mendesain sesuatu, membaca sejarah, atau berdiskusi dengan artificial intelligence mengenai persoalan yang belum dipahaminya. Anak lain dapat menghabiskan empat jam yang sama berpindah tanpa tujuan dari satu video pendek ke video berikutnya. Screen time mereka sama, tetapi perkembangan intelektual yang dihasilkan dapat sangat berbeda.
Karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukan berapa lama manusia melihat layar, melainkan untuk apa perhatian yang sangat terbatas itu digunakan.
Dari Mengetahui Peristiwa Menuju Memahami Penyebab
Salah satu risiko terbesar dari lingkungan informasi yang serba cepat adalah berkurangnya kesabaran untuk mencari root cause. Kita semakin terbiasa memperoleh kesimpulan sebelum memahami persoalan secara utuh. Sebuah peristiwa terjadi dan dalam beberapa menit media sosial sudah penuh dengan penjelasan mengenai siapa yang salah. Sebuah harga naik dan segera ditemukan pihak yang dianggap bertanggung jawab. Sebuah potongan video memperlihatkan konflik dan orang mengambil kesimpulan tanpa mengetahui apa yang terjadi sebelum kamera dinyalakan. Artificial intelligence dapat menghasilkan jawaban dalam beberapa detik, lalu jawaban tersebut diterima sebagai pengetahuan tanpa diperiksa bagaimana kesimpulan itu diperoleh.
Padahal hampir semua profesi yang bertanggung jawab atas keselamatan dan kehidupan manusia bekerja dengan cara yang berlawanan. Dokter tidak berhenti pada gejala, tetapi mencari etiologi. Insinyur tidak berhenti ketika menemukan komponen yang patah, tetapi mencari penyebab mengapa komponen tersebut gagal. Dalam investigasi kecelakaan penerbangan, menyatakan bahwa kecelakaan terjadi karena pilot error tidak cukup. Investigator harus bertanya mengapa pilot melakukan kesalahan, apakah prosedurnya memadai, apakah desain kokpit mempunyai peran, apakah kelelahan memengaruhi keputusan, apakah komunikasi gagal, dan apakah sistem organisasi menciptakan kondisi yang memungkinkan kesalahan berkembang menjadi kecelakaan.
Itulah hakikat root-cause thinking. Kemampuan tersebut membutuhkan sesuatu yang semakin sulit dipertahankan dalam lingkungan digital, yaitu kesediaan untuk berhenti, membaca lebih panjang, meragukan kesimpulan pertama, membandingkan sumber, menguji asumsi, serta membedakan korelasi dari hubungan sebab-akibat.
Artificial Intelligence dan Jalan Pintas Intelektual
Kehadiran artificial intelligence membuat persoalan ini menjadi jauh lebih penting. AI berpotensi menjadi salah satu instrumen pendidikan terbesar yang pernah diciptakan manusia. Seorang anak yang mempunyai koneksi internet secara teoritis dapat memperoleh bantuan belajar matematika, fisika, bahasa, sejarah, pemrograman, dan berbagai bidang ilmu kapan saja. Hambatan geografis terhadap akses pengetahuan dapat berkurang secara dramatis.
Namun teknologi yang sama juga dapat menjadi jalan pintas intelektual terbesar yang pernah kita ciptakan apabila digunakan untuk menggantikan proses berpikir. Ada perbedaan fundamental antara meminta AI menyelesaikan sebuah soal dan meminta AI menguji langkah penyelesaian yang sudah kita coba. Dalam kasus pertama, mesin dapat mengambil alih pekerjaan kognitif. Dalam kasus kedua, mesin berfungsi sebagai instrumen untuk memperkuat kemampuan berpikir manusia.
Generasi sebelumnya menghadapi persoalan kelangkaan informasi. Gen Z, Alpha dan Beta menghadapi persoalan sebaliknya: kelimpahan informasi dan semakin mudahnya memperoleh jawaban tanpa memahami proses yang menghasilkan jawaban tersebut. Karena itu, salah satu kemampuan terpenting pada zaman AI bukan lagi sekadar memperoleh jawaban, melainkan merumuskan pertanyaan yang tepat, memeriksa kualitas jawaban, mengenali ketidakpastian, menemukan asumsi tersembunyi, dan mengetahui kapan mesin mungkin salah.
Tantangan Mereka Justru Lebih Berat
Karena itu, generasi yang lebih tua juga perlu berhati-hati ketika mengatakan bahwa kehidupan pada zaman dahulu lebih berat. Dalam banyak hal pernyataan itu tentu benar. Generasi sebelumnya mengalami perang, kemiskinan, keterbatasan transportasi, akses pendidikan yang jauh lebih kecil, serta teknologi yang sangat terbatas. Namun kesulitan tidak menghilang. Kesulitan berubah bentuk.
Gen Z, Alpha dan Beta akan menghadapi artificial intelligence yang dapat menggantikan sebagian pekerjaan intelektual, otomatisasi, perubahan iklim, kompetisi global, perang siber, deepfake, manipulasi informasi, polarisasi masyarakat, perubahan demografi, ketidakpastian geopolitik, serta teknologi yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan hukum dan institusi sosial untuk mengaturnya.
Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan bahwa hampir 40 persen keterampilan inti pekerja akan berubah menjelang 2030. Analytical thinking tetap menjadi salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan, disertai resilience, flexibility and agility, creative thinking, literasi teknologi, kepemimpinan, empati, kemampuan mendengarkan, rasa ingin tahu, dan lifelong learning.
Paradoksnya menjadi semakin jelas. Semakin cerdas mesin, semakin penting kualitas yang membuat manusia tetap menjadi manusia.
Dari 4C Menuju 4C + Wisdom
Dalam pembicaraan mengenai keterampilan abad ke-21 sering digunakan konsep 4C: Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Creativity. Keempatnya memang sangat penting, tetapi dalam menghadapi dunia yang semakin dikuasai teknologi, saya berpendapat bahwa empat kemampuan tersebut belum cukup. Kita memerlukan unsur kelima yang menjadi pengarah seluruh kemampuan lainnya, yaitu wisdom atau kebijaksanaan.
Critical thinking memungkinkan seseorang tidak menerima informasi hanya karena informasi tersebut populer atau berulang kali muncul di layar. Ia mengajarkan manusia untuk memeriksa fakta, sumber, asumsi, hubungan sebab-akibat, dan kemungkinan penjelasan alternatif. Communication bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi kemampuan mengubah gagasan kompleks menjadi sesuatu yang dapat dipahami manusia lain sekaligus mempunyai kesediaan untuk mendengarkan. Collaboration memungkinkan manusia bekerja dengan orang yang berbeda profesi, pendidikan, budaya, bahkan pandangan, karena hampir tidak ada persoalan besar abad ke-21 yang dapat diselesaikan oleh seorang genius yang bekerja sendirian. Sementara itu, creativity memungkinkan manusia menemukan kemungkinan baru, menghubungkan gagasan yang sebelumnya tampak tidak berkaitan, dan mempertanyakan cara lama ketika cara tersebut tidak lagi memadai.
Namun keempat kemampuan itu dapat digunakan untuk tujuan yang baik maupun buruk. Seseorang dapat sangat kreatif dalam melakukan penipuan. Sebuah organisasi dapat berkolaborasi dengan sangat efektif untuk melakukan kejahatan. Komunikasi yang luar biasa dapat digunakan untuk menyebarkan propaganda. Kemampuan berpikir yang sangat tinggi dapat digunakan untuk menciptakan teknologi penghancur. Karena itulah kita membutuhkan wisdom.
Pengetahuan memberi tahu manusia apa yang dapat dilakukan. Kebijaksanaan membantu manusia menentukan apakah sesuatu seharusnya dilakukan, untuk tujuan apa, dengan risiko apa, dan siapa yang akan menanggung akibatnya. Ilmu pengetahuan memungkinkan manusia membelah atom, tetapi kebijaksanaan menentukan bagaimana kekuatan itu digunakan. Bioteknologi memungkinkan manusia memodifikasi kehidupan, tetapi kebijaksanaan diperlukan untuk menentukan batas etikanya. Artificial intelligence memungkinkan manusia menghasilkan informasi, gambar, suara, analisis, dan keputusan dengan kecepatan yang belum pernah dikenal sebelumnya, tetapi kebijaksanaan menentukan kapan kita dapat mempercayainya, kapan kita harus mempertanyakannya, dan kapan keputusan harus tetap berada di tangan manusia.
Tantangan terbesar generasi mendatang karena itu mungkin bukan bagaimana menjadi lebih cerdas. Mereka akan mempunyai akses kepada intelligence augmentation yang jauh lebih besar daripada generasi sebelumnya. Tantangan mereka adalah memastikan bahwa peningkatan kemampuan tersebut disertai peningkatan kebijaksanaan yang setara. Peradaban tidak hanya terancam ketika manusia kekurangan kecerdasan; ia juga dapat terancam ketika kecerdasan memperoleh kekuatan besar tanpa kendali moral.
Bagaimana Berkomunikasi dengan Gen Z?
Persoalan mengenai Gen Z tidak akan selesai hanya dengan mengatakan apa yang harus mereka ubah, sebab generasi yang lebih tua pun perlu mengubah cara berkomunikasi dengan mereka. Pengalaman panjang memang mempunyai nilai yang tidak dapat digantikan teknologi, tetapi pengalaman itu kehilangan sebagian kekuatannya apabila disampaikan semata-mata sebagai nasihat atau kesimpulan yang harus diterima. Kalimat seperti “ketika saya seusiamu” sering tidak efektif bukan karena pengalaman generasi sebelumnya tidak relevan, melainkan karena kondisi sosial, ekonomi, teknologi, dan dunia kerja yang dihadapi seorang berusia dua puluh tahun sekarang memang berbeda dengan yang dihadapi orang tuanya puluhan tahun lalu.
Karena itu, komunikasi antargenerasi sebaiknya bergerak dari lecturing menuju dialogue, dari memberikan jawaban menuju mengajarkan cara menemukan jawaban. Dalam persoalan rumah, misalnya, daripada mengatakan bahwa anak muda harus membeli rumah karena menyewa berarti membuang uang, akan lebih bermanfaat mengajak mereka menghitung seluruh siklus kehidupan. Jika mereka memilih menyewa sampai usia tujuh puluh atau delapan puluh tahun, berapa aset produktif yang harus tersedia ketika penghasilan aktif berhenti? Sebaliknya, apabila membeli rumah membuat hampir seluruh pendapatan selama puluhan tahun habis untuk cicilan, apakah keputusan itu juga bijaksana? Percakapan seperti itu tidak memaksakan satu kesimpulan, tetapi mengajarkan cara mempertimbangkan trade-off, risiko, nilai waktu uang, inflasi, dan konsekuensi jangka panjang.
Pendekatan yang sama berlaku terhadap penggunaan telepon genggam. Daripada hanya mengatakan bahwa mereka terlalu banyak bermain dengan telepon, lebih berguna mengajak mereka mengevaluasi bagaimana waktu tersebut digunakan. Empat jam belajar bahasa, membaca, membuat program, mengembangkan desain, atau menggunakan AI untuk menguji sebuah gagasan tentu berbeda secara fundamental dengan empat jam menggulir konten tanpa tujuan. Yang perlu dibangun bukan ketakutan terhadap layar, melainkan kesadaran bahwa perhatian merupakan sumber daya terbatas dan bahwa apa yang kita berikan perhatian secara terus-menerus pada akhirnya ikut membentuk diri kita.
Demikian pula ketika anak muda mengalami kegagalan. Menyebut mereka tidak tahan tekanan hanya akan memperlebar jarak psikologis. Kegagalan justru dapat dijadikan laboratorium pembelajaran dengan menanyakan mengapa sebuah rencana gagal, faktor mana yang berada dalam kendali, asumsi apa yang salah, dan apa yang harus diubah sebelum mencoba kembali. Dengan demikian, resilience tidak diajarkan sebagai perintah untuk menjadi kuat, tetapi sebagai kemampuan mengevaluasi kegagalan, belajar darinya, dan kembali bertindak dengan pengetahuan yang lebih baik.
Generasi yang tumbuh bersama TikTok, YouTube, Instagram, mesin pencari, dan AI tidak mungkin dipaksa kembali ke lingkungan informasi tahun 1970-an atau 1980-an. Tantangannya adalah bagaimana memanfaatkan ekosistem baru tersebut tanpa kehilangan kemampuan berpikir panjang. Daripada mengatakan bahwa mereka malas membaca, berikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu video pendek, satu unggahan media sosial, atau satu jawaban AI. Ajak mereka membandingkan sumber, menemukan perbedaan informasi, memeriksa kredibilitas, mencari hubungan sebab-akibat, dan mempertahankan kesimpulannya dengan argumentasi. Dengan demikian critical thinking tumbuh sebagai kebiasaan intelektual, bukan sebagai slogan pendidikan.
Cara berkomunikasi seperti ini memberikan tanggung jawab intelektual kepada generasi muda. Kita tidak memperlakukan mereka sebagai wadah kosong yang harus diisi pengalaman generasi sebelumnya, melainkan sebagai manusia yang harus belajar memikul konsekuensi keputusan sendiri. Tugas generasi yang lebih tua bukan mengambil alih keputusan mereka, tetapi memperluas horizon berpikirnya: dari hari ini menuju beberapa dekade mendatang, dari akibat langsung menuju akibat tidak langsung, dari kepentingan pribadi menuju kepentingan masyarakat, serta dari pertanyaan mengenai apa yang mungkin dilakukan menuju pertanyaan mengenai apa yang seharusnya dilakukan.
Generasi muda tidak membutuhkan generasi tua yang terus-menerus menceritakan betapa hebat atau betapa berat kehidupan masa lalu. Mereka membutuhkan mentor yang bersedia membuka pengalaman secara jujur: mengapa dahulu suatu keputusan diambil, informasi apa yang tersedia ketika itu, asumsi apa yang ternyata salah, apa yang berhasil, apa yang gagal, dan pelajaran apa yang dapat ditarik. Pengalaman yang hanya disimpan sebagai nostalgia akan berakhir bersama pemilik pengalaman tersebut, sedangkan pengalaman yang ditransformasikan menjadi cara berpikir dapat berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di sinilah komunikasi antargenerasi memperoleh arti yang lebih besar daripada hubungan antara orang tua dan anak muda. Ia merupakan salah satu mekanisme utama transfer of civilization. Pengetahuan teknis dapat ditulis dalam buku, disimpan dalam komputer, dan sekarang dipelajari oleh AI. Namun judgment, keberanian mengambil keputusan dalam ketidakpastian, kemampuan membaca manusia, integritas ketika tidak ada yang mengawasi, pemahaman terhadap konsekuensi yang tidak direncanakan serta kebijaksanaan yang diperoleh melalui keberhasilan dan kegagalan jauh lebih sulit dipindahkan. Semua itu terutama ditransmisikan melalui hubungan antarmanusia, percakapan, keteladanan, kepercayaan, pengalaman bersama serta kesediaan dua generasi untuk saling mendengarkan.
Komunikasi itu juga harus berlangsung dua arah. Gen Z memasuki dunia yang belum pernah dialami generasi sebelumnya ketika berada pada usia yang sama. Mereka akan bekerja bersama artificial intelligence, menghadapi profesi yang terus berubah, membangun hubungan dalam dunia fisik sekaligus digital, serta membuat keputusan di tengah volume informasi yang melampaui kemampuan seorang manusia untuk menguasainya. Pengalaman generasi sebelumnya dapat memberikan kompas, tetapi belum tentu menyediakan seluruh peta.
Karena itu, hubungan yang kita perlukan bukan hubungan antara generasi yang merasa sudah mengetahui seluruh jawaban dengan generasi yang dianggap hanya perlu menerimanya. Yang diperlukan adalah pertemuan antara pengalaman dan kemampuan beradaptasi, institutional memory dan digital fluency, kedalaman dan kecepatan, serta wisdom dan technological capability. Jika keduanya dapat bertemu, komunikasi antargenerasi menjadi proses bagaimana sebuah peradaban mempertahankan pengetahuan yang telah diperolehnya tanpa kehilangan kemampuan untuk berubah.
Pendidikan: Jangan Hanya Memberikan Jawaban
Perubahan teknologi juga menuntut perubahan cara kita mendidik. Sistem pendidikan modern berkembang pada masa ketika informasi relatif langka. Guru mengetahui sesuatu yang belum diketahui murid; guru menyampaikan informasi, murid mengingatnya, dan ujian mengukur seberapa banyak informasi tersebut dapat direproduksi.
Model itu tidak lagi cukup ketika sebuah telepon dapat mengakses informasi yang jauh lebih banyak daripada yang dapat dihafalkan seorang manusia sepanjang hidupnya. Pendidikan harus bergerak dari memorizing answers menuju kemampuan membangun pertanyaan, memecahkan masalah, dan menilai kualitas jawaban.
Seorang siswa dapat, misalnya, diberi pertanyaan mengapa sebuah kota terus mengalami banjir. Jangan langsung berikan jawabannya. Mintalah ia mempelajari curah hujan, perubahan penggunaan tanah, sistem drainase, penurunan muka tanah, pertumbuhan penduduk, tata ruang, sampah, serta kebijakan pemerintah. Dengan cara demikian ia akan menemukan bahwa persoalan kompleks hampir tidak pernah mempunyai satu penyebab.
Metode serupa dapat digunakan untuk mempertanyakan mengapa sebuah perusahaan bangkrut, mengapa harga pangan meningkat, mengapa sebuah kapal kehilangan stabilitas, atau mengapa kebijakan yang mempunyai tujuan baik terkadang menghasilkan akibat yang tidak diinginkan. Melalui persoalan seperti itu siswa dapat belajar systems thinking, Five Whys, probabilitas, trade-off, opportunity cost, scenario planning, serta perbedaan antara korelasi dan kausalitas.
Dengan cara demikian, teknologi tidak menggantikan pikiran manusia. Teknologi menjadi amplifier of thought.
Ketangguhan Bukan Berarti Tidak Pernah Rapuh
Istilah strawberry generation juga perlu dilihat secara hati-hati karena manusia bukan baja. Generasi yang berbicara mengenai kesehatan mental, meminta keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, atau mempertanyakan budaya kerja yang buruk tidak otomatis merupakan generasi yang lemah. Sebagian dari perubahan itu bahkan dapat merupakan koreksi terhadap kebiasaan lama yang memang tidak sehat.
Ketangguhan atau resilience bukan kemampuan untuk tidak pernah mengalami kesulitan, ketakutan, atau kegagalan. Ketangguhan adalah kemampuan menghadapi kesulitan tanpa kehilangan kemampuan untuk belajar dan kembali bertindak. Dalam dunia penerbangan, keselamatan tidak ditingkatkan dengan berpura-pura bahwa pilot tidak pernah melakukan kesalahan. Keselamatan ditingkatkan dengan membangun sistem yang mampu menemukan kesalahan, mempelajarinya, dan mencegahnya berkembang menjadi kecelakaan.
Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan. Anak muda tidak perlu dibesarkan dalam lingkungan yang menghilangkan seluruh kesulitan. Mereka membutuhkan tantangan yang proporsional, tanggung jawab nyata, konsekuensi terhadap keputusan, dan kesempatan memperbaiki kesalahan. Tanpa tantangan sulit lahir ketangguhan, tetapi tanpa bimbingan tantangan dapat berubah menjadi pengalaman yang tidak menghasilkan pembelajaran.
Dari Strawberry Generation Menuju Wise Generation
Karena itu, pertanyaan apakah Gen Z merupakan strawberry generation pada akhirnya bukanlah pertanyaan yang paling penting. Label tersebut terlalu sederhana untuk menjelaskan jutaan manusia yang tumbuh dalam lingkungan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keluarga yang berbeda-beda.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kita dapat membantu mereka berkembang menjadi wise generation: generasi yang mampu menggunakan AI tanpa menyerahkan proses berpikir kepadanya, menikmati media sosial tanpa menyerahkan seluruh perhatiannya kepada algoritma, memperoleh informasi dengan cepat tetapi tetap mampu berpikir perlahan ketika persoalan membutuhkan kedalaman, serta memahami bahwa keberhasilan finansial bukan hanya kemampuan mengonsumsi hari ini tetapi juga kemampuan membangun keamanan dan kebebasan pada masa depan.
Generasi seperti itu tidak harus menolak teknologi. Sebaliknya, mereka harus menguasainya. Namun penguasaan teknologi harus berjalan bersama disiplin, integritas, empati, kerendahan hati intelektual, kemampuan bekerja sama, dan kesediaan mempertimbangkan akibat keputusan terhadap manusia lain. Kreativitas membutuhkan arah moral; kecerdasan membutuhkan pertimbangan; kekuasaan membutuhkan tanggung jawab.
Di situlah wisdom memperoleh maknanya. Kebijaksanaan bukan sekadar banyak mengetahui. Ia merupakan kemampuan menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman, konsekuensi, nilai, dan kepentingan manusia yang lebih luas. Semakin besar kekuatan teknologi yang dimiliki sebuah generasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap kebijaksanaan yang mengendalikannya.
Akankah Peradaban Bertahan?
Setiap generasi pada akhirnya harus menyerahkan dunia kepada generasi berikutnya. Greatest Generation telah melakukannya, Silent Generation telah melakukannya, Baby Boomers sedang memasuki tahap itu, dan kelak Generasi X serta Millennials akan melakukan hal yang sama. Tidak ada generasi yang dapat memegang kemudi selamanya.
Karena itu, pertanyaan mengenai Gen Z sebenarnya bukan pertanyaan tentang mereka saja. Ia juga merupakan pertanyaan mengenai keberhasilan seluruh generasi sebelumnya melakukan transfer of civilization. Apakah yang kita wariskan hanya gedung, perusahaan, teknologi, kekayaan, infrastruktur, dan institusi, atau bersama semuanya itu kita juga mampu mewariskan kemampuan berpikir, keberanian, disiplin, integritas, rasa ingin tahu, empati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan?
Teknologi manusia hampir pasti akan semakin kuat. Artificial intelligence akan semakin mampu melakukan pekerjaan yang sebelumnya dianggap hanya dapat dilakukan manusia. Bioteknologi akan berkembang, sistem persenjataan akan semakin kompleks, dunia digital akan semakin menyatu dengan kehidupan fisik, dan kemampuan manusia memengaruhi lingkungan serta sesamanya akan semakin besar. Karena itulah pertanyaan tentang manusia seperti apa yang mengendalikan seluruh kekuatan tersebut menjadi semakin menentukan.
Kita tidak perlu meminta Gen Z menjadi Baby Boomers. Mereka tidak mungkin menjadi kita dan memang tidak seharusnya menjadi kita. Mereka hidup pada zaman yang berbeda dan akan menghadapi persoalan yang berbeda. Yang dapat diberikan generasi sebelumnya bukan nostalgia tentang masa lalu, melainkan pengalaman tanpa menggurui, nilai tanpa mematikan kebebasan berpikir, disiplin tanpa merendahkan, serta kebijaksanaan yang disampaikan dengan kesadaran bahwa tidak seorang pun mempunyai seluruh jawaban untuk dunia yang sedang berubah dengan sangat cepat.
Sesudah itu, kita harus memberi mereka ruang untuk menciptakan zamannya sendiri. Kelangsungan peradaban pada akhirnya memang akan berada di tangan mereka, kemudian berpindah kepada Generasi Alpha, Beta, dan generasi-generasi yang bahkan belum kita beri nama. Tantangan terbesar mereka mungkin bukan bagaimana menjadi lebih pintar daripada generasi sebelumnya, sebab dengan bantuan mesin mereka hampir pasti mempunyai kemampuan kognitif yang diperkuat teknologi jauh melampaui apa yang pernah tersedia bagi kita.
Tantangan yang lebih menentukan adalah bagaimana menggunakan kekuatan yang semakin besar dengan kebijaksanaan yang juga semakin besar. Sejarah manusia telah menunjukkan bahwa kecerdasan mampu menciptakan teknologi, kekayaan, kekuasaan, dan masa depan. Namun kecerdasan saja tidak dapat menjamin bahwa semua yang diciptakannya akan digunakan untuk kepentingan manusia.
Pada akhirnya, mungkin di situlah terletak tanggung jawab terpenting setiap generasi kepada generasi berikutnya: bukan mewariskan semua jawaban, melainkan mewariskan kemampuan untuk terus bertanya, mencari akar persoalan, membedakan yang benar dari yang sekadar populer, memahami konsekuensi sebelum bertindak, bekerja bersama manusia lain, menciptakan sesuatu yang belum pernah ada, dan mempunyai kebijaksanaan untuk mengetahui kapan sebuah kemampuan seharusnya digunakan dan kapan justru harus dibatasi.
Sebab kecerdasan dapat membantu manusia menciptakan masa depan, tetapi kebijaksanaanlah yang akan menentukan apakah masa depan itu tetap layak dihuni oleh manusia.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. Hasil Sensus Penduduk 2020. Jakarta: BPS, 2021.
Deloitte. 2025 Gen Z and Millennial Survey. Deloitte Global, 2025.
McCrindle Research. Generation Alpha dan Generation Beta: Characteristics and Demographic Definitions. McCrindle Research.
Organisation for Economic Co-operation and Development. PISA 2022 Results. Paris: OECD Publishing, 2023–2024.
Pew Research Center. “Where Millennials End and Generation Z Begins.” Washington, D.C.: Pew Research Center, 2019.
UNESCO. Global Education Monitoring Report 2023: Technology in Education—A Tool on Whose Terms? Paris: UNESCO, 2023.
World Economic Forum. The Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum, 2025.
Yasyi Hill, 27 September 2026. (***)